ALIRAN SILEK HARIMAU SINGGALANG: harimau singgalang
Tampilkan postingan dengan label harimau singgalang. Tampilkan semua postingan
Tampilkan postingan dengan label harimau singgalang. Tampilkan semua postingan

Kamis, 27 Desember 2012

Biografi Pak Haji Sofyan Nadar & Sejarah Berdirinya aliran Harimau Singgalang



BIOGRAFI PAK HAJI SOFYAN NADAR

Bapak Haji Syofyan Nadar dilahirkan pada tahun 1958 di sebuah desa di kabupaten Kerinci Jambi. Beliau adalah merupakan anak ketiga dari tujuh bersaudara. Ayahnya bernama Nadar dan Ibu berasal dari Pariaman yang bernama Nani dari Pesisir Selatan bersuku Bendang, yaitu dari desa Asam Kumbang Bayang.
Pada saat usia 13 tahun, beliau sudah sering melihat orang bermain silat, karena di tempat tinggalnya banyak sasaran atau perguruan silat dari berbagai macam aliran. Pada saat itu belajar silat dilakukan secara sembunyi-sembunyi mulai dari tengah malam hingga kadang-kadang sampai menjelang Subuh.
Bapak dari orang tua beliau dalah seoang guru silat juga yang bernama Muhamad Tanjuang  di Kapalo Koto Pauh Kamba, kakek dan bapaknya cukup disegani. Walaupun bapaknya pendiam tak banyak bicara, Pak Sofyan tahu bahwa bapaknya pun sedikit tahu tentang silat namun tak mau mengajarkan. Nenek beliau yang bernama Kasumi juga seorang wanita yang pandai silat beserta dua orang mamaknya yang bernama Jusan dan Uncu Padek. Mereka juga guru debus di Asam Kumbang Bayang.
Dari ketujuh bersaudara dalam keluarganya, hanya dia dan kakak tertuanyalah—yang bernama Syahrial—suka mempelajari silat hingga sekarang.
Pak Syofyan mulai belajar silat dari umur 13 tahun di daerah Kerinci. Guru pertamanya bernama Mak Tiar Tenjak—karena kakinya pendek sebelah kanan—seorang tukang gali kubur yang tinggal di lokasi Tanah Kuburan Peratuan Orang Pariaman di Bukit Sentiong. Dia yang selalu membersihkan lokasi pekuburan tersebut yang juga tempat dimana pondok tempat tinggal keluarganya berada. Di situlah sasaran pertama Pak Shofyan berlatih silat di bawah bimbingan Mak Tiar.
Tiga bulan pertama saat ia berlatih di sana, kerjanya hanyalah disuruh membuat minuman kopi untuk murid lain, belum boleh ikut belajar langsung hanya memperhatikan saja. Iapun tak menolak, menuruti saja dengan apa yang dikatakan gurunya, walaupun dalam benaknya tersirat juga pemikiran kenapa gurunya tak mau mengajarkan silat pada saat itu. Mungkin itulah ujian dari kesabaran dan ketaatan serang murid oleh gurunya. Sampai akhirnya pada suatu hari, Ia temui gurunya sendirian, dan pada saat ia menghadap tersebut, barulah Mak Tiar menanyakan kesungguhannya untuk belajar silat. Sejak sat itu, ia pun selalu berlatih silat secara khusus tanpa sepengetahuan murid lain.
Mencari ilmu memang tidak semudah membalikkan tangan, begitu pula dengan beliau. Tidak pernah ada perasaan cukup dengan apa yang telah dipelajarinya hingga detik sekarangpun, dari satu guru ke guru lain, ia terus menuntut ilmu hingga bermacam aliran telah dipelajarinya. Sampai akhirnya ia bertemu dengan seorang guru silat aliran Sunua Jantan yang bernama Syofyan Usman. Dari guru terakhirnya ini, ia banyak menerima bimbingan yang tidak hanya tentang ilmu silat namun juga tentang ilmu agama dan sejarah tentang pencak silat tradisi Sunua daerah pesisir Pariaman. Gurunya tersebut yang juga dikenal dengan Ajo Piyan Putiah—yang masih hidup hingga berumur 73 pada saat ini (tahun 2008)—merupakan murid dari Mak Utiah Karunia, yang sejarah hidupnya cukup dikenal di daerah pesisir pantai Pariaman.
Di daerah pesisir pantai Pariaman terdapat banyak dusun sejak dari Ulu Bangau Katapiang Ulakan, Sunua Marunggi hingga ke Tiku Pariaman. Dari salah satu nama desa di sanalah Silat Sunua berasal, karena yang dimaksud Sunua adalah sebuah sumur tempat orang dusun mandi, berwuduk, dan lain sebagainya yang letaknya tidak jauh dari sebuah sasaran silat yang merupakan tempat orang-orang kampung banyak belajar di sana. Di sasaran inilah tempat Mak Utiah karunia belajar. Selesai belajar di sana, Mak Utiah pun meminta ijin pada guruny untuk mengajarkan silat di kampungnya yang juga tak jauh dari desa Sunua, yaitu dusun Marungi. Sejak sat itu, mulailah Mak Utiah menerima murid dan mengajarkan silat. Beberapa muridnya yang dikenal adalah Ajo Piyan, Sidi Tukak, dan Sidi Gapuak.
Sepanjang Pesisir Pariaman sebelum adanya kolonial Belanda adalah merupakan daerah yang rawan perampok dan bajak laut, sehingga orang-orang di sana perlu belajar silat untuk membela diri. Di salah satu desanya yang bernama desa Ulakan, ada salah satu makam yang dikeramatkan oleh masyarakat sekitar, kabarnya petilasan dari seorang tokoh ulama penyebar agama Islam di Minangkabau yang bernama Syeh Burhanuddin sehingga banyak diziarahi orang banyak hingga dari luar Sumatera Barat.


ALIRAN SILEK HARIMAU SINGGALANG

Pak H. Syofyan Nadar sejak sebelum menikah sudah mulai mengajarkan aliran-aliran yang dipelajarinya, dan setelah beliau menikah pada tahun 1980 dengan Elida—gadis dari kampung Balingka kaki gunung Singgalang—dan mendapat gelar keturunan Sutan Rajo Endah dan mendirikan Aliran Silek Tradisional Harimau Singgalang. Sejak tahun 2004—dibantu anak-anaknya, Alex Syofyan, Deni Dahniel, dan Abral Wahyudi—Aliran Silek Harimau Singgalang secara resmi terdaftar di IPSI dan dikenal serta memiliki cabang resmi di luar negeri.





Dikutip dari Biografi karangan Bapak Haji Syofyan Nadar
Athis-Mons, 16 April 2008
Diedit ulang di: Bukittinggi, 01 Januari 2012
Penulis
Cecep Arif Rahman
Deni Dahniel


































KONTAK INFO

PPS Satria Muda Indonesia cabang Bukittinggi
Jalan Panorama no.3 komplek PDAM Bukittinggi
Jadwal latihan: Minggu 08.00 - 11.30 WIB

Exclusive  training with Pak Haji sofyan
AliranHarimauSinggalang@gmail.com
Adrian_turs@yahoo.co.id
+62 813-7409-8716
+62 823-8865-0000
+62 812-6750-790